KATEKESE TAHUN EKARISTI TRANSFORMATIF 2025 JADIKAN UMAT SEBAGAI “EKARISTI” BAGI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN.



Oleh: Elfrida Jena

Guru Mapel PKN di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan




ABSTRAK 

Gereja Katolik Keuskupan Ruteng mencanangkan tahun 2025 sebagai Tahun Ekaristi Transformatif. Sebagai bagian dari keuskupan tersebut, Gere Stasi St.Peregrinus Watumingan ambil bagian dalam program pastoral yang sama. Didalam dan melalui program pastoral tersebut Gereja setempat berniat memberikan pencerahan ulang, membangun kembali kesadaran iman umat akan pentingnya Ekaristi. Salah satu metode yang digunakan dalam kegiatan pencerahan tersebut adalah katekese umat yang dibingkai dalam empat tema yang berbeda namun bertalian. Metode yang sangat sederhana namun mengumat ini pada akhirnya membuahkan hasil, umat Stasi St.Peregrinus Watumingan menjadi “Ekaristi” bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.

Abstract

The Catholic Church of the Diocese of Ruteng has declared 2025 as the Year of the Transformative Eucharist. As part of the diocese, the St. Peregrinus Watumingan Church took part in the same pastoral program. In and through this pastoral program, the local Church intends to provide re-enlightenment, rebuilding the awareness of the people's faith in the importance of the Eucharist. One of the methods used in this enlightenment activity is the catechesis of the people which is framed in four different but related themes. This very simple but deeply rooted method ultimately bore fruit, the people of St. Peregrinus Watumingan Church became the Eucharist for themselves and others.


Pendahuluan 

Keuskupan Ruteng mencanangkan tahun 2025 sebagai Tahun Ekaristi Transformatif. Ditengah arus digitalisasi yang memang memberikan keuntungan dan kemudahan jika digunakan dengan baik dan lebih banyak merenggut serta menghapus kemanusiaan dari manusia, Ekaristi dipandang sebagai kegiatan rutinitas dari segelintir orang yang mau mengikutinya, membosankan dan tidak berpengaruh terhadap kehidupan iman umat beriman. Dalam situasi dan kondisi yang kian memperihatinkan ini, Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat mengajak umat untuk berpaling kepada Ekaristi sebagai pusat dan puncak kehidupan Gereja. Bernaung dibawah tema Tahun Ekaristi Transformatif: “Sumber dan Puncak Kehidupan Gereja” (LG 11) Mgr. Siprianus menegaskan pentingnya Ekaristi sebagai pusat kehidupan umat beriman. Ekaristi bukan hanya suatu ritual yang dilakukan secara rutin, tetapi juga merupakan pusat dari setiap aspek kehidupan umat beriman (Seri KU. No. 37/2025).

Ekaristi sesungguhnya memiliki kekuatan mentransformasi/mengubah kehidupan keseharian umat. Dengan menimbah kekuatan dari Ekaristi umat diharapkan hidup sesuai dengan panggilan Tuhan, yaitu menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia, menjadi “Ekaristi” bagi orang lain. Untuk sampai pada titik itu tentunya bukanlah hal yang mudah, berbagai metode harus dilakukan. Salah satu metode yang sudah mengumat adalah katekese, membawah firman ke tengah umat, merenungkannya bersama-sama serta mengaplikasikanya dalam bentuk tindakan nyata. Tulisan yang berjudul Katekese Tahun Ekaristi Transformatif 2025 Jadikan Umat Sebagai “Ekaristi” Bagi Orang lain adalah sebuah refleksi tentang pelaksanaan katekese di Stasi St.Peregrinus Watumingan, Paroki Sta.Theresia Dari Kanak-Kanak Yesus Mbata, Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng dan pengaruhnya terhadap kesadaran umat akan pentingnya Ekaristi sebagai puncak dan pusat kehidupan Gereja. 

Tulisan ini diramu dengan dua metode sekaligus, yakni metode kepustakaan, memanfaatkan buku-buku yang berhubungan dengan judul yang ingin penulis kembangkan dan juga metode studi lapangan dengan cara mewawancarai tokoh-tokoh agama yang tentunya seringkali berelasi langsung dengan umat. Tentunya tidak ada gading yang tidak retak, demikian juga dengan tulisan ini, oleh karena itu segal bentuk usul saran demi penyempurnaan tulisan ini sangat penulis harapkan.

Gambaran singkat tentang Stasi St.Peregrinus Watumingan

Stasi St.Peregrinus Watumingan demikianlah orang menyebutnya merupakan wilayah bagian dari Paroki Sta. Theresia Dari Kanak-Kanak Yesus Mbata. Stasi ini berada dipedalaman Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng, Kabupaten Manggarai Timur. Didalam stasi pedalaman ini hiduplah sekelompok umat Katolik yang menyebar di Dua Belas Kelompok Basis Gereja. Profesi utama mereka adalah petani/pekebun. Meskipun demikian, karena kesadaran yang penuh akan pentingnya pendidikan sehingga lahirlah para katekis-katekis handal, para guru, serta tenaga kesehatan. Karena ketakwaan umatnya kepada Yang Maha Kuasa serta semangat ora et labora yang tinggi, stasi ini kerap dijuluki dengan sebutan Bukit Iman, tempat banyak pendatang menyadari dan merasakan kasih Allah dari tangan umat setempat.

Kegiatan Katekese Tahun Ekaristi Transformatif 2025

Katekese merupakan kegiatan pendalaman iman/ memberikan pengajaran inam yang sifatnya sistematis dengan tujuan membantu umat mengenal dan menghayati ajaran Katolik. Dari akar katanya, Kata “katekese” memiliki akarnya dalam bahasa Yunani dalam kata kerja κατεχειν (katekhein), yang berarti memberitakan, memberitahukan, mengajar, dan memberi pengajaran. Dalam Perjanjian Baru, kata ini merujuk pada pengajaran para rasul tentang Yesus Kristus dan Injil-Nya. Kata tersebut juga memiliki arti menggemakan secara meluas atau keluar, karena berasal dari gabungan kata dalam bahasa yunani “kat” yang berarti keluar, ke arah luas dan “echo” yang berarti gema atau gaung (https://katekese.id/artikel/apa-itu-katekese/, 15 Mei 2025). Singkat kata katekese merupakan kegiatan pewartaan dan pendalaman iman. Katekese pada dasarnya membuat sabda menggema keluar. Sabda tidak lagi hanya sekedar kata-kata indah yang termuat dalam sebuah buku suci tetapi lebih dari itu keluar menembus dan menghancurkan sekat-sekat pemisah dalam kehidupan social, menyejukan iman umat yang dahaga dan kekeringan, pelita penuntun jalan agar umat memahami ajaran iman Katolik dengan baik dan benar. Sebagai buahnya, kegiatan katekese melhirkan pembaharuan iman umat, memperbaiki hubungan yang retak antara sesama manusia dan juga antara manusia dengan Penciptanya.

Sejalan dengan hal tersebut, maka Direktorium Kateketik Umum (1971:17) menyebutkan katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda, yang bertujuan membuat iman umat hidup, dasar, dan aktif lewat cara pengajaran. Dalam ruang lingkup kegiatan pastoral, istilah katekse diartikan sebagai karya gerejani, yang menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa (DKU.1971:21). Senada denga apa yang disampaikan oleh Evangelii Nuntiandi (EN.18) kabar baik yang diwartakan dengan kesaksian hidup cepat/lambat haruslah diwartakan dengan sabda kehidupan. Dan segi yang penting dari pewartaan sabda kehidupan adalah kotbah dan katekese. Catechesi Tradendae (CT.18) menyimpulkan bahwa katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang kuhsusnya mencakup penyampaian ajaran kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksut menghantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen.

Kepenuhan hidup Kristen tentunya hanya ada dalam Ekaristi. Inilah alasan mendasar mengapa Keuskupan Ruteng mencanangkan tahun 2025 sebagai tahun Ekaristi Transformatif, agar dengan ambil bagian dalam perayaan Ekaristi umat semakin sadar bahwa Ekaristi adalah bentuk puji syukur (Eucharistia) atas peristiwa keselamatan, yakni penebusan Yesus Kristus yang telah membebaskan dosa-dosa kita, bahkan dosa seluruh dunia (Seri KU. No. 37/2025). Dalam Ekaristi terjadi peristiwa transformasi diri Allah agar manusia selamat. Bersamaan dengan itu, kitapun bertransformasi, hidup menurut panggilan Allah, menjadi “Ekaristi” bagi sesamanya.


Katekese Tahun Ekaristi Transformatif 2025 Jadikan Umat Sebagai “Ekaristi” Bagi Orang lain 

Berbicara tentang Ekaristi di tengah umat untuk konteks sekarang ini menjadi semacam hal baru, kurang dipahami, tidak ditanggapi karena dianggap kurang penting untuk dibahas. Hal ini sungguh memberikan gambaran bahwa pemahaman mereka tentang Ekaristi sangat minim yang pada akhirnya berdampak pada kurangnya keterlibatan mereka dalam mengikuti perayaan tersebut dan juga kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Panorama semacam ini seringkali kita jumpai dikalangan umat pada umumnya, khususnya di Stasi St.Peregrinus Watumingan, Paroki Sta.Theresia Dari Kanak-Kanak Yesus Mbata, Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng. RD. Wilhelmus Riyadi Findoro, Pastor Paroki Sta. Theresia Dari Kanak-Kanak Yesus Mbata yang menjabat sejak tahun 2022 sampai 2024 menyampaikan bahwa “Kehadiran umat dalam perayaan Ekaristi mingguan dibeberapa stasi di Paroki Sta.Theresia Dari Kanak-Kanak Yesus Mbata, termasuk di Stasi St.Peregrinus Watumingan sangat kurang. Ketika ditanya mengapa tidak ambil bagian dalam perayaan Ekaristi mereka menjawab doa pribadi di rumah lebih baik dari pada Ekaristi”. Hal serupa juga disampaikan oleh Bapak Agustinus Janggu, ketua stasi St.Peregrinus Watumingan. “Sebagian besar umat St.Peregrinus Watumingan berprofesi sebagai petani, pendidikannya hanya sebatas Sekolah Dasar (SD), pekerjaanya setiap hari bertani/berkebun, diimbangi dengan kurangnya perhatian dari para pemimpin Gereja dan juga para katekis dalam memberikan pencerahan dan pendampingan yang pada akhirnya berdampak pada minimnya pemahaman mereka tentang Ekaristi” ujarnya. Hal serupa tentu saja tidak hanya dialami oleh pemimpin Gereja di Stasi St.Peregrinus Watumingan, di tempat lain juga semangat umat untuk terlibat aktif dalam perayaan Ekaristi sangat kurang.

 Pada tahun 2025 kesadaran akan pentingnya Ekaristi bagi kehidupan iman umat menjadi perhatian khusus. Dalam Sidang Pastoral Post Natal yang digelar dari tanggal 6-10 Januari 2025 bertempat di Biara Suster Puteri Karmel, Wae Lengkas Ruteng Mgr. Siprianus, Uskup Keuskupan Ruteng menegaskan bahwa, “…… dalam tahun 2025 ini program dan gerakan Ekologis dalam tahun 2024 ingin dilanjutkan dan dibingkai dalam tahun pastoral Ekaristi Transformatif. Selain berdimensi ekologis, Ekaristi juga berciri social, tidak hanya mempersatukan kita dengan alam tetapi juga mengajak kita untuk peduli dan terlibat dalam kehidupan sesama manusia” (https://keuskupanruteng.org, 15 Mei 2025). Selanjutnya, agar suara Sidang Pastoral Post Natal tahun 2025 tentang pentingnya Ekaristi bagi kehidupan iman dapat sampai ke telinga umat, berbagai cara dan upaya dilakukan, salah satunya melalui kegiatan katekese umat yang disampaikan oleh para fasilitator katekese di KBG-KBG.

Kegiatan katekese umat tahun Ekaristi Transformatif 2025 yang dibingkai dalam lima kali pertemuan dengan tema yang berbeda-beda namun saling bertautan memberikan pencerahan yang mendalam dan meningkatkan pemahaman umat akan pentingnya Ekaristi bagi kehidupan iman. Tema 1 : Mengalami Karya Penyelamatan Kristus Dalam Ekaristi (seri KU. No. 37/ 2025 hal.1) menekankan tentang Allah yang mengubah diri-Nya dalam Putera-Nya terkasih, Tuhan Yesus Kristus yang melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya telah menebus dan membebaskan manusia dari dosa. Tema 2: Bersatu dengan umat Allah, berbelarasa dengan yang menderita (seri KU. No. 37/ 2025 hal.20), dalam perayaan Ekaristi kita dipanggil untuk memperbarui iman, memperluas kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Tema 3: Ekaristi: bersatu dengan alam ciptaan untuk memuliakan Allah (seri KU. No. 37/ 2025 hal. 38) melihat bumi sebagai ibu dan saudara, merawatnya adalah salah satu cara memuliakan nama Allah. Tema 4: Menyebah dan memuliakan Tuhan dalam Ekaristi dengan aktif, khidmat, agung, dan penuh sukacita (seri KU. No. 37/ 2025 hal. 53) membangun komitmen untuk senantiasa hadir dalam perayaan Ekaristi setipa kali dirayakan. Tema 5: Merasakan kerahiman Tuhan dalam tahun Yubilium 2025 (seri KU. No. 37/ 2025 hal. 73) mengundang umat untuk berbuat kasih kepada sesama, terutama mereka yang miskin, sakit, menderita, terpinggirkan sebagai wujud iman yang hidup.

Katekese tahun Ekaristi Transformatif 2025 menjadikan umat sebagai Ekaristi bagi dirinya sendiri. Pelaksanaan katekese 2025 memancarkan cahaya iman yang baru dalam diri umat Stasi St.Peregrinus Watumingan, hal tersebut dibuktikan dengan kondisi ruangan Gereja yang pada tahun sebelumnya kelihatan besar dan hampir kosong pada saat Ekaristi dirayakan, kini menjadi sempit dan kecil karena meningkatnya kehadiran umat. Umat mengikuti perayaan Ekaristi secara utuh dan sungguh-sungguh, mulai dari perarakan pembuka sampai perarakan penutup. Tidak hanya itu, umat juga berlomba-lomba meminta pastor untuk merayakan Ekaristi di KBG-nya masing-masing, serta terlibat aktif dalam tugas tanggungan liturgy setiap kali Ekaristi dirayakan. Perubahan ini merupakan bentuk tanggapan positif umat akan tema katekese pertemuan pertama yang intinya mengajak umat membangun komitmen untuk selalu ambil bagian dalam perayaan Ekaristi. RD. Jhon Samur dalam khotbahnya pada Minggu, 2/3/2025 menyampaikan bahwa dirinya tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Allah yang sudah mengutus Roh Kudus-Nya memperbarui hidup dan iman umat Stasi St.Peregrinus Watumingan melalui kegiatan katekese umat, sehingga setiapkali Ekaristi dirayakan di stasi ini kehadiran umat semakin bertambah. Senada dengan itu, Bapak Sirilus Sardiman (umat Stasi St.Peregrinus Watumingan) yang diwawancarai oleh penulis pada Minggu, 6 April 2025 menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada Mgr. Siprianus selaku Uskup Ruteng atas inisiatifnya memberikan pencerahan tentang Ekaristi kepada umat melalui kegiatan katekese. Berkat kegiatan tersebut iman umat diteguhkan dan giat mengikuti perayaan Ekaristi setiapkali dirayakan.

 Katekese tahun Ekaristi Transformatif 2025 menjadikan umat sebagai Ekaristi bagi orang lain. Api iman yang saat ini kembali memancarkan cahayanya di Stasi St.Peregrinus Watumingan tidak hanya menerangi umat secara individu, juga tidak hanya menerangi ruangan kapela dengan kehadiran banyak umat dalam perayaan Ekaristi, tetapi memancar keluar, menusuk dan menembus dinding-dinding pemisah yang selama ini menjadi bendung/penghalang mengalirnya rasa solidaritas antar manusia. Dalam perbincangannya dengan penulis pada Minggu, 4 Mei 2025 tentang pengaruh katekese Tahun Ekaristi Transformatife, Bapak Blasius Bujang menyampaikan pentingnya pewartaan dan pencerahan iman melalui kegiatan tersebut. Berkat kegiatan katekese umat tahun 2025 terjadi perubahan yang sangat luar biasa pada diri umat, mereka semakin giat ambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Selain itu juga umat menjadi pribadi yang solider, melihat penderitaan sesama menjadi penderitaan dirinya sendiri dengan cara ambil bagian dalam meringankan beban mereka yang sakit dan menderita. Sebagai contoh, menjadi Ekaristi bagi orang lain berarti bersolider. Misalnya pada bulan Januari tahun 2025 umat di stasi tersebut giat mengumpulkan dana solidaritas untuk korban bencana alam Gunung Lewotobi di Kecamatan Wulanggitang dan sebagian kecil Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT. Hal itu menunjukan bahwa Ekaristi sesungguhnya bukan hanya perayaan liturgis (rohani), tetapi juga panggilan untuk bertindak nyata (seri KU. No. 37/ 2025 hal. 23). Dalam Yakobus 2:17 dikatakan iman tanpa perbuatan adalah mati, mau menekankan bahwa iman yang sesungguhnya tidak hanya sekedar kepercayaan, tetapi juga harus ditunjukan dan dibuktikan dalam tindakan nyata.

Menjadi Ekaristi bagi orang lain diaplikasikan dalam kegiatan kunjungan orang sakit (seri KU. No. 37/ 2025 hal. 23). Kegiatan mengunjungi sesama yang sakit atau menderita merupakan salah satu bentuk pelayanan Gereja Katolik. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan, doa, dan penghiburan rohani kepada mereka yang sedang sakit. Meskipun hanya dalam lingkungan stasi namun kegiatan ini akhir-akhir ini sudah seringkali dilakukan oleh umat St.Peregrinus Watumingan, menjadi penyalur kasih Kristus yang menguatkan dan menyembuhkan kepada sesama yang sedang sakit. Terkait dengan kegiatan kunjungan tersebut ada banyak hal yang mereka persiapkan, selain doa mereka juga memberikan derma berupa uang dan juga barang-barang kebutuhan harian yang sudah dipersiapkan secara bersama.

Selanjutnya menjadi Ekaristi bagi orang lain berarti melakukan aksi nyata ekologis. Bumi adalah ibu dari semua makhluk hidup, tempat yang nyaman, sumber makanan untuk kelangsungan hidup. Kesadaran akan pentingnya merawat ibu bumi sudah dibangun sejak tahun 2024 dikalangan umat melalui program pastoral Tahun Ekologi Integral yang dicanangkan oleh Keuskupan Ruteng. Konsep "Ekologi Integral" sendiri menekankan pendekatan holistik yang mempertimbangkan dimensi manusia, sosial, dan keterkaitan kehidupan di Bumi dengan ekosistem. Paus Fransiskus mempopulerkan konsep ini dalam ensikliknya, "Laudato Si," yang menjelaskan hubungan timbal balik antara manusia dan alam, di mana alam tidak dianggap sebagai sesuatu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari kita. Bumi adalah ibu kita bersama yang patut dijaga dan dirawat. Menanggapi program pastoral tersebut, umat Stasi St.Peregrinus Watumingan dalam tahun Ekaristi Transformatif 2025 telah menyelenggarakan beberapa kegiatan, seperti penghijauan yakni penanaman pohon di tempat-tempat yang gersang, misalnya di dekat lokasi mata air, di tempat-tempat lain yang kerapkali sengaja dibabat untuk lokasi perkebunan dan lain-lain. Selain kegiatan penghijauan, umat juga melakukan pembersihan lingkungan dan pembuatan taman bunga. Tidak hanya itu, menjadi Ekaristi bagi diri sendiri dan orang lain sebagai buah dari pelaksanaan katekese Tahun Ekaristi Transformatif 2025 juga dituangkan dalam beberapa kegiatan yang dalam hal ini belum diaplikasikan namun sudah direncanakan dan dijadwalkan untuk selanjutnya akan dilaksanakan pada waktu yang telah ditetapkan bersama.


Penutup

Ekaristi merupakan pusat dan puncak, bagian vital, jantung yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Gereja yakni umat Allah. Namun umat di era digital kurang menyadari hal tersebut, dianggap kuno karena berasal dari para rasul, tidak gaul serta membosankan yang pada akhirnya berdampak pada kurangnya keterlibatan umat dalam merayakan Ekaristi. Jika hal semacam ini dibiarkan maka Gereja yang adalah umat Allah akan kehilangan identitasnya sebagai umat Katolik. Sehingga pada tahun 2025 Gereja Katolik Keuskupan Ruteng mencanangkan program Tahun Ekaristi Transformatif, memberikan pencerahan dan penyegaran tentang pentingnya Ekaristi bagi kehidupan iman umat. Berkat program pastoral tersebut yang disampaikan melalui kegiatan katekese cahaya iman umat yang selama ini meredup kini kembali bercahaya, menerangi hatinya dan juga hati sesamanya, menjadi Ekaristi bagi dirinya sendiri dan juga orang lain dengan melaksanakan berbagai kegiatan baik yang bersifat rohaniah maupun sosial.

Daftar Rujukan

Harmansi, Stanislaus Efodius, dkk., Buku MateriKatekese Umat Dewasa, Seri KU. No.37/2025, Ruteng, 2025.

Jimy Carvalo, (2025), “Sidang Post Natal Tahun Pastoral “Ekaristi Transformatif” Keuskupan Ruteng”, https://keuskupanruteng.org, 15 Mei 2025.

Cosmos Ruteng, ”Pedoman Pastoral Puasa dan Pantang Masa Prapaskah Keuskupan Ruteng”, https://katekese.id/artikel/apa-itu-katekese/, 15 Mei 2025.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potret Retak Indonesia (Dekonstruksi Kekuasaan yang Menjadi Zombie Birokrasi)

KUNJUNGAN PAUS FRANSISKUS DI INDONESIA TAHUN 2024: REFLEKSI POLITIK, AGAMA DAN PENDIDIKAN KATOLIK