Postingan

Menyibak Fenomena Iklim Politik Indonesia Berdasarkan Perspektif Marquis De Sade

Gambar
Oleh: Adrian Naja, S. Fil Realitas politik Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Kita perhatikan kondisi kebijakan pemerintah bukanlah hasil dari perenungan mendalam atas kebutuhan kolektif, melainkan produk transaksional dari oligarki dan kepentingan jangka pendek. Pemerintah, alih-alih menjadi mobilitas perubahan, justru sering kali menjadi tawanan dari logika kuasa yang sempit, merumuskan kebijakan yang reaktif, fragmentatif, dan tidak menyentuh akar persoalan. Yang lahir adalah program-program yang sekadar menjadi pelipur lara di media massa, atau lebih buruk, alat untuk melanggengkan hegemoni kekuasaan. Sementara, masalah mendasar rakyat, seperti kesenjangan ekonomi, kualitas pendidikan, kesehatan, dan penegakan hukum, serta ketidakadilan terus berlarut-larut tanpa solusi holistik. Fenomena ini bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan sebuah kegagalan filosofis yang akut. Secara filosofis, pemerintah telah kehilangan telos-nya, yaitu tujuan akhirnya untuk menciptaka...

Potret Retak Indonesia (Dekonstruksi Kekuasaan yang Menjadi Zombie Birokrasi)

Gambar
  Oleh: Adrian Naja, S. Fil.  Sejak rumah kekuasaan berada dalam rezim fu fu fa fa, Indonesia seakan mati di dalam mimpi sang pemimpin. Janji makanan gratis dijadikan bius penenang masa. Sebuah somniforum politik yang membius kesadaran kolektif. Masa seakan mayat yang tak lagi berpikir, hingga pilihan jatuh pada diri yang hanya bisa omon-omon. Ini sebuah monolog kosong dalam panggung demokrasi yang patah. Orang ini adalah rantai rezim kolonial yang masih eksis di negeri Pertiwi ini. Sebuah fosil kekuasaan yang terus mereproduksi penjajahan dalam bentuknya yang paling mutakhir. Dari rantai rezim itu, Indonesia direnggut paksa oleh kebijakan yang tak konstruktif, seperti kapal tanpa nahkoda yang dihempas badai oligarki. Korupsi adalah kebiasaan yang wajar bagi para politisi, dan menjadi ritual harian yang menggerogoti tulang punggung negeri. Pemimpin berkali-kali mengutuk koruptor tapi ternyata hanya sekadar omon-omon. Konstitusi bagaikan orasi historis, tak bernilai apalagi dia...

KUNJUNGAN PAUS FRANSISKUS DI INDONESIA TAHUN 2024: REFLEKSI POLITIK, AGAMA DAN PENDIDIKAN KATOLIK

Gambar
Oleh:Fitriana Seol, S.Pd (Guru Mapel Bahasa Inggris di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan) Abstrak Tulisan ini membahas tentang kunjungan Paus Fransiskus di Indonesia Tahun 2024 dan refleksi politik, agama, dan pendidikan Katolik terkait dengan kunjungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kunjungan Paus Fransiskus dapat memperkuat internalisasi ajaran agama dan meningkatkan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, serta implikasi kunjungan tersebut terhadap kebijakan politik dan agama di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui studi literatur dan wawancara dengan narasumber yang terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kunjungan Paus Fransiskus dapat memperkuat internalisasi ajaran agama dan meningkatkan kerjasama antar umat beragama di Indonesia, serta memiliki dampak signifikan terhadap kebijakan politik dan agama di Indonesia. Selain itu, strategi Paus Fransiskus untuk meningkatkan ku...

KATEKESE TAHUN EKARISTI TRANSFORMATIF 2025 JADIKAN UMAT SEBAGAI “EKARISTI” BAGI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN.

Gambar
Oleh: Elfrida Jena Guru Mapel PKN di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan ABSTRAK  Gereja Katolik Keuskupan Ruteng mencanangkan tahun 2025 sebagai Tahun Ekaristi Transformatif . Sebagai bagian dari keuskupan tersebut, Gere Stasi St.Peregrinus Watumingan ambil bagian dalam program pastoral yang sama. Didalam dan melalui program pastoral tersebut Gereja setempat berniat memberikan pencerahan ulang, membangun kembali kesadaran iman umat akan pentingnya Ekaristi . Salah satu metode yang digunakan dalam kegiatan pencerahan tersebut adalah katekese umat yang dibingkai dalam empat tema yang berbeda namun bertalian. Metode yang sangat sederhana namun mengumat ini pada akhirnya membuahkan hasil, umat Stasi St.Peregrinus Watumingan menjadi “Ekaristi” bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Abstract The Catholic Church of the Diocese of Ruteng has declared 2025 as the Year of the Transformative Eucharist. As part of the diocese, the St. Peregrinus Watumingan Church took part in the sa...

SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan: Mencetak Generasi Terampil Berhati Nurani "Pendidikan bukan sekadar mengisi pikiran dengan ilmu dan informasi, tetapi membentuk manusia menjadi lebih manusiawi."

Gambar
Oleh: Adrian Naja, S.Fil Pernahkah Anda Merenung, Apa Arti Sebuah Pendidikan yang Sesungguhnya?" Pendidikan yang sesungguhnya adalah yang mampu membebaskan manusia, bukan hanya dari ketidaktahuan dan ketidakberdayaan, tetapi juga dari kesempitan makna. Di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan, kami meyakini bahwa pikiran yang cerdas harus digerakkan oleh hati yang bijak, dan tindakan yang bijak perlu diterangi oleh iman yang teguh. Dalam semangat inilah SMK St. Peregrinus Laziosi Watumingan hadir, bukan hanya sebagai sekolah, tetapi sebagai bengkel kehidupan, tempat setiap siswa ditempa menjadi manusia utuh, terampil tangan, cerdas pikiran, dan luhur hati serta bijak dan bermoral dalam bertindak. Inilah ruang di mana kecerdasan otak dan kedalaman spiritual bersatu. Di sini, kami tidak sekadar melatih siswa untuk menguasai materi, tetapi juga membentuk insan bermoral dan bertakwa kepada Tuhan, tidak hanya mengejar nilai dan kelulusan, tetapi menemukan panggilan hidup.  Ka...

Ritus Manusia Belenggu (Ketika Hidup Hanya Jadi Pertunjukkan Kosong di Panggung Eksistensi)

Gambar
  Oleh: Adrian Naja, S. Fil Kita hidup dalam dunia yang sudah terstruktur sebelum kita lahir. Jam, kalender, sistem hidup, sistem upah, hierarkti sosial, dan lainnya, semuanya bejalan seperti telah ditetapkan dengan rapi dan pasti. Manusia berjalan di dalamnya, tanpa tanya dan tanpa pemberontakan. Heidegger menyebutnya geworfenheit, “kita terlempar ke dalam realitas yang bukan pilihan kita. Kita semua terjebak dalam siklus ritus peristiwa harian tanpa makna, dan kita sebut bahwa itulah hidup. Kita memaknai hidup sebagai peralihan peristiwa, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan segala peristiwa itu kita alami setiap hari. Bangun pagi, mandi, makan, bekerja/belajar, tidur merupakan kegiatan repitif absurd yang membuat seorang filsuf Nietzsche mungkin tersenyum getir melihat ketidakberdayaan kita melawan banalitas eksistensi. Rutinitas itu bukan lagi pilihan, melainkan secaman determinasi sosial yang kita terima dengan patuh dan taat.  Setiap pagi, alaram berbunyi. Kita ...