Potret Retak Indonesia (Dekonstruksi Kekuasaan yang Menjadi Zombie Birokrasi)
Sejak rumah kekuasaan berada dalam rezim fu fu fa fa, Indonesia seakan mati di dalam mimpi sang pemimpin. Janji makanan gratis dijadikan bius penenang masa. Sebuah somniforum politik yang membius kesadaran kolektif. Masa seakan mayat yang tak lagi berpikir, hingga pilihan jatuh pada diri yang hanya bisa omon-omon. Ini sebuah monolog kosong dalam panggung demokrasi yang patah. Orang ini adalah rantai rezim kolonial yang masih eksis di negeri Pertiwi ini. Sebuah fosil kekuasaan yang terus mereproduksi penjajahan dalam bentuknya yang paling mutakhir.
Dari rantai rezim itu, Indonesia direnggut paksa oleh kebijakan yang tak konstruktif, seperti kapal tanpa nahkoda yang dihempas badai oligarki. Korupsi adalah kebiasaan yang wajar bagi para politisi, dan menjadi ritual harian yang menggerogoti tulang punggung negeri. Pemimpin berkali-kali mengutuk koruptor tapi ternyata hanya sekadar omon-omon. Konstitusi bagaikan orasi historis, tak bernilai apalagi diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi naskah suci yang dibacakan tanpa pernah dipahami ruhnya.
Hampir puluhan tahun, kesejahteraan di negeri ini hanya direnggut oleh mereka yang dithabiskan untuk mewakili rakyat dan memimpin bangsa. Korupsi besar-besaran oleh tikus berdasi tak kunjung selesai, dan membentuk siklus abadi yang mengubur harapan di lubang kubur keadilan. Sementara rakyat melarat di atas ranjang keadaan, terbaring pasrah menyaksikan luka bangsa yang tak kunjung sembuh. Hampir setiap tahun angka kemiskinan mengalami eskalasi, menjadi epidemi yang menjalar dalam urat nadi negara. Pengangguran berkeliaran mengemis sesuap janji di tahta penguasa, tetapi pemerintah negeri ini telah mati hati. Seperti zombie birokrasi yang berjalan tanpa jiwa, tanpa peduli lagi dengan penderitaan rakyat margin.
Akhir-akhir ini pun, kita dikejutkan dengan kebijakan pemerintah yang cukup prihatin dan ekstrem. Bayangkan, para wakil rakyat dinaikkan gajinya hingga melonjak kekuatiran, bagaikan para penjaga candi yang justru mencuri sesajen. Hal ini bukan hanya berbahaya bagi rakyat tapi ancaman paling serius bagi kemajuan Negara. Sebuah pisau belati yang menikam punggung demokrasi. Negara akan mengalami krisis identitas yang paling fundamental, ketika para pemimpinnya menjadi lintah darat yang menghisap darah rakyat yang sudah sekarat.
Dalam pusaran ketidakpastian ini, kita menyaksikan bagaimana kekuasaan telah berubah menjadi monster yang memakan anak-anaknya sendiri. Setiap kebijakan yang lahir dari rahim kekuasaan adalah anak haram yang tidak mengenal bapaknya sendiri. Rakyat hanya menjadi penonton dalam tragedi nasional yang dipentaskan oleh para pemain yang sudah lupa dialognya sendiri.
Namun, dalam kegelapan yang paling pekat sekalipun, selalu ada celah cahaya yang menyelinap. Kesadaran kolektif yang bangkit dari kubur ketidakpedulian akan menjadi matahari baru yang menyinari jalan perubahan. Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi ketika rakyat telah memutuskan untuk mengambil kembali takdirnya sendiri.
Karena itu, jangan heran, jika akhir-akhir ini, negeri ini dilandai oleh angin demonstrasi yang paling keji. Aksi masa melancarkan sirkulasi demo tanpa henti. Masa pun membakar sarang mafia, dan banyak nyawa pun dikorbankan. Ini bukan salah rakyat, tapi ini bentuk reaksi yang paling suci dari hati yang telah dikhianati dengan janji-janji yang diucapkan berkali-kali di ruang publik.
Banyak pengamat politik menilai aksi demonstrasi para aktivis sebagai aksi heroik. Sebab, orasi, reaksi dan aksi mereka adalah perlawanan terhadap penjajah yang bertahta di atas kursi rakyat. Mereka tidak berniat menghancurkan negeri ini, namun mereka melancarkan aksinya demi merebut kembali kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Patut diberikan apresiasi bagi para aktivis yang telah berkorban, memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tangan pemimpin. Sebab, kemerdekaan yang telah “beku” di dalam kulkas rahasia para pemimpin, kini dibongkar paksa oleh masa yang murka. Entah apa yang akan terjadi “setelah demo ini”, entah pemerintah sadar akan perbuatannya yang tak terpuji, atau pemerintah akan berefleksi diri dan bertransformasi dengan niat untuk membawa Indonesia ke takhta kesejahteraan.
Namun, perlawanan ini adalah pertarungan melawan raksasa yang kakinya terbenam dalam lumpur kolusi dan kepentingan. Setiap teriakan di jalanan adalah palu godam yang mencoba memecah tembok tebal keangkuhan kekuasaan. Setiap spanduk yang terkembang adalah bendera perang melawan mesin oligarki yang lapar, yang menggerogoti kedaulatan rakyat hingga ke tulang-tulangnya.
Di tengah gelombang demonstrasi, kita menyaksikan ironi paling pahit, para wakil rakyat justru menjadi musuh dalam selimut, sementara konstitusi yang seharusnya menjadi senjata rakyat, dibelokkan menjadi alat legitimasi untuk mempertahankan status quo. Negeri ini sedang dirayu oleh puisi-puisi palsu tentang pembangunan, sementara hakikatnya, kita hanya menjadi penonton di pesta pora para elit.
Oleh karena itu, jangan berharap perubahan datang dari istana-istana yang dibangun dari puing-puing moral. Perubahan sejati hanya akan lahir dari rahim perlawanan yang tak kenal lelah. Setiap demo adalah siklus napas bangsa yang mencoba bangkit dari mati suri, setiap aksi adalah denyut nadi yang menolak untuk berhenti berdetak.
Mungkin jalan masih panjang dan gelap, tetapi setiap langkah para demonstran adalah suluh yang menerangi kegelapan, setiap pengorbanan mereka adalah benih yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi pohon keadilan yang rindang. Sebab, sejarah telah membuktikan bahwa tirani mana pun akhirnya akan tumbang oleh kekuatan rakyat yang bersatu, yang menuntut haknya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan yang berani dan tanpa kompromi.

Komentar
Posting Komentar