Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

“AKU TERLAHIR DARI SEORANG PETANI”

Gambar
Oleh: Yohanes M. Tenggo, S.Pd (Guru Mapel Matematika)  “Aku bangga terlahir dari petani" merupakan ungkapan rasa bangga terhadap profesi orang tua yang bermata pencaharian sebagai petani.  Rasa bangga terus terukir seiring perjalanan waktu, masa kecilku dihabiskan dengan waktu yang belum terarah. Kasih sayang orang tua tidak terhenti dengan langkah pergulatan ekonomi yang kurang cukup. Orang tua yang hanya berprofesi petani tidak menyerah begitu saja, parang, sabit, tofa dan perlengkapan petani lainya adalah bagian hidup seorang ayah ibu. Orang tuaku adalah seorang yang berprofesi sebagai petani. Mereka yang menekuni hidupnya untuk bertani setiap harinya. Bukan hanya Bertani tetapi hewan ternak seperti babi , ayam, kambing mereka pelihara. Saya merasa paling beruntung menjadi anak petani. Perjuangan mereka dalam bertani juga tidak bisa saya hitung sudah berapa tahun. Bagi saya, mereka adalah petarung sejati. Bermodalkan tenaga, dan hasil pertanian, orang tua saya mampu menyek...

NADIA SAUDARIKU

Gambar
  Oleh: Arnoldus Tarsan, S.Fil (Guru Mapel Pastoral/Katekese)  Seperti biasanya ketika bangun pagi, hal yang sering saya lakukan merapikan tempat tidur dan menyiapkan buku-buku perkuliahan. Bagi saya, hal ini bukanlah sesuatu yang asing. Sudah menjadi rutinitas. “Pagi kali ini rasanya lain sekali? Sudah jam segini Agus belum juga datang. Apa dia lupa hari ini ada mata kuliahnya Pak Marsel yang sering disebut sebagai Dosen terkiler itu?” Gumamku. Sementara itu, rotasi waktu rasanya tidak dapat dihentikan. Jarak Kampus dan Rumah tempat Saya tinggal sangat jauh. Membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Kampus. Kegelisahan dan rasa takutku semakin berapi-api. Takut akan mata kuliah yang tertinggal dan takut akan Pak Dosen.  Agus sahabat terbaiku, sekelas dan sehobi denganku. Adapun kelebihannya bisa mengendarai sepeda motor. Sedangkan aku, sama sekali tidak bisa. Seringkali mencoba tetapi sama sekali tidak bisa. Apa mungkin karena Saya terlalu dalam menanam pemahaman bahwa ya...

Aku Berwajah Online (Menyibak Identitas dan Kepalsuan Eksistensi dalam Ruang Digital)

Oleh: Adrian Naja, S.Fil (Guru Mapel Doktrin Gereja Katolik dan Moral Krististiani)  Dalam dunia yang semakin kekinian, di mana dunia terhubung secara digital, konsep “aku berwajah online” menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji secara filosofis. “Wajah online” kita bukan sekadar representasi fisik, melainkan konstruksi identitas yang kompleks, di mana batas antara yang nyata dan yang virtual semakin suram dan kabur. Kita tidak dapat memisahkan epifani diri yang nyata dan palsu. Hal itu karena wajah yang ditampilkan dalam media sosial telah difilter sedemikian rupa. Hal ini membuat banyak orang terjebak dalam kepalsuannya. Misalnya, seseorang yang aslinya bermuka hitam legam ketika dipost dalam layar online menjadi putih, mulus, glowing dan memukau. Lalu, banyak orang menyukai itu dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran nyata.  Di samping itu, isu yang sedikit terkesan gila adalah isu mengenai real’s video. Fenomena ini menarik. Banyak orang terjebak dalam proyeksi reals ...
Homo Sacer dan Krisis Kemanusiaan (Ketika Kebijakan Pemerintah Menciptakan “Yang Terbuang”) Oleh: Adri Naja, S.Fil (Guru Mapel Doktrin Gereja Katolik & Moral Kristiani )  Konsep Homo Sacer, yang digagas oleh filsuf Giorgio Agamben, merujuk pada individu atau kelompok yang berada dalam kondisi “terbuang” dari perlindungan hukum dan norma sosial. Mereka hidup dalam zona abu-abu, tidak diakui sepenuhnya sebagai warga negara yang dilindungi, tetapi juga tidak sepenuhnya diabaikan. Mereka adalah “yang bisa dibunuh tanpa dihukum,” sebuah paradoks yang mengekspos kegagalan sistem politik dan hukum dalam menjamin hak-hak dasar manusia. Dalam konteks situasi sekarang, konsep ini menjadi relevan untuk menganalisis bagaimana kebijakan pemerintah tertentu justru dapat menciptakan krisis kemanusiaan dengan menjadikan sebagian masyarakat sebagai “yang terbuang.” Konsep Homo Sacer yang digagas oleh Giorgio Agamben bukan sekadar teori filosofis abstrak, melainkan sebuah pisau analisis yang ta...