Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Menyibak Fenomena Iklim Politik Indonesia Berdasarkan Perspektif Marquis De Sade

Gambar
Oleh: Adrian Naja, S. Fil Realitas politik Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Kita perhatikan kondisi kebijakan pemerintah bukanlah hasil dari perenungan mendalam atas kebutuhan kolektif, melainkan produk transaksional dari oligarki dan kepentingan jangka pendek. Pemerintah, alih-alih menjadi mobilitas perubahan, justru sering kali menjadi tawanan dari logika kuasa yang sempit, merumuskan kebijakan yang reaktif, fragmentatif, dan tidak menyentuh akar persoalan. Yang lahir adalah program-program yang sekadar menjadi pelipur lara di media massa, atau lebih buruk, alat untuk melanggengkan hegemoni kekuasaan. Sementara, masalah mendasar rakyat, seperti kesenjangan ekonomi, kualitas pendidikan, kesehatan, dan penegakan hukum, serta ketidakadilan terus berlarut-larut tanpa solusi holistik. Fenomena ini bukan sekadar kesalahan prosedural, melainkan sebuah kegagalan filosofis yang akut. Secara filosofis, pemerintah telah kehilangan telos-nya, yaitu tujuan akhirnya untuk menciptaka...

Potret Retak Indonesia (Dekonstruksi Kekuasaan yang Menjadi Zombie Birokrasi)

Gambar
  Oleh: Adrian Naja, S. Fil.  Sejak rumah kekuasaan berada dalam rezim fu fu fa fa, Indonesia seakan mati di dalam mimpi sang pemimpin. Janji makanan gratis dijadikan bius penenang masa. Sebuah somniforum politik yang membius kesadaran kolektif. Masa seakan mayat yang tak lagi berpikir, hingga pilihan jatuh pada diri yang hanya bisa omon-omon. Ini sebuah monolog kosong dalam panggung demokrasi yang patah. Orang ini adalah rantai rezim kolonial yang masih eksis di negeri Pertiwi ini. Sebuah fosil kekuasaan yang terus mereproduksi penjajahan dalam bentuknya yang paling mutakhir. Dari rantai rezim itu, Indonesia direnggut paksa oleh kebijakan yang tak konstruktif, seperti kapal tanpa nahkoda yang dihempas badai oligarki. Korupsi adalah kebiasaan yang wajar bagi para politisi, dan menjadi ritual harian yang menggerogoti tulang punggung negeri. Pemimpin berkali-kali mengutuk koruptor tapi ternyata hanya sekadar omon-omon. Konstitusi bagaikan orasi historis, tak bernilai apalagi dia...