Ritus Manusia Belenggu (Ketika Hidup Hanya Jadi Pertunjukkan Kosong di Panggung Eksistensi)
Oleh: Adrian Naja, S. Fil
Kita hidup dalam dunia yang sudah terstruktur sebelum kita lahir. Jam, kalender, sistem hidup, sistem upah, hierarkti sosial, dan lainnya, semuanya bejalan seperti telah ditetapkan dengan rapi dan pasti. Manusia berjalan di dalamnya, tanpa tanya dan tanpa pemberontakan. Heidegger menyebutnya geworfenheit, “kita terlempar ke dalam realitas yang bukan pilihan kita. Kita semua terjebak dalam siklus ritus peristiwa harian tanpa makna, dan kita sebut bahwa itulah hidup. Kita memaknai hidup sebagai peralihan peristiwa, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan segala peristiwa itu kita alami setiap hari. Bangun pagi, mandi, makan, bekerja/belajar, tidur merupakan kegiatan repitif absurd yang membuat seorang filsuf Nietzsche mungkin tersenyum getir melihat ketidakberdayaan kita melawan banalitas eksistensi. Rutinitas itu bukan lagi pilihan, melainkan secaman determinasi sosial yang kita terima dengan patuh dan taat.
Setiap pagi, alaram berbunyi. Kita bangun bukan karena tubuh telah cukup istirahat, tapi karena jam 07.00 adalah waktu yang telah “ditentukan”. Kita bekerja keras bukan hanya karena kemauan kita untuk bekerja, tapi karena kita dituntut dan ditentukan untuk hidup layak. Begitupun dengan hal lainnya. Dunia menentukkan semuanya ini. Dan kita hanya ikut dalam permainannya. Kita hidup seperti telah diditerminir oleh sesuatu yang membuat kita melakukannya secara terus menerus. Mengikuti segala alurnya, dinamikanya dan tuntutanya. Dalam menjalankan segala rutinitas kehidupan setiap hari, kita seperti seorang budak yang dibelenggu. Melakukan segala sesuatu sebagaimana sesuatu yang dilakukan adalah rutinitas yang sudah ditentukan. Barangkali kita sudah dijinakkan dengan keadaan serba ikut saja.
Kita adalah narapidana di penjara waktu, terkurung dalam sel-sel kosmos yang berderak tanpa henti. Setiap detik adalah jeruji besi yang mengokang gerak kita ke dalam siklus repetitif, bangun, bekerja, makan, mandi dan tidur. Kita mengira diri kita bebas, padahal kita hanya bergerak dalam orbit yang sudah ditetapkan oleh mesin besar peradaban.
Heidegger menyebutnya das Man "Sang Mereka" yaitu sebuah kekuatan anonim yang menentukan bagaimana kita seharusnya hidup, berpikir, dan merasa. Kita tidak lagi menjadi Dasein (Ada-yang-sadar), melainkan sekrup kecil dalam mesin raksasa yang berputar tanpa tahu tujuannya. Kita terjebak dalam everydayness, kehidupan yang datar, tanpa kedalaman, di mana semua pertanyaan esensial tentang mengapa dan untuk apa ditenggelamkan oleh banjir rutinitas.
Albert Camus menulis bahwa satu-satunya respons terhadap dunia yang absurd adalah pemberontakan. bukan dalam arti kekerasan, melainkan kesadaran untuk terus menolak kepasifan. Setiap hari kita merayakan ritus yang sama, berharap suatu hari makna akan turun dari langit seperti manna yang dinarasikan dalam Kitab Suci. Padahal seperti yang dikatakan Albert Camus dalam “’Mitos Sisifus”, kita mungkin hanya menari di panggung kosong tanpa penonton, dalam drama yang bahkan tidak kita pahami alurnya. Panggung kehidupan ini gelap, sunyi dan absurd, tapi kita terus menari karena berhenti menari berarti menghadapi kenyataan bahwa mungkin tidak musik yang mengiringi kita. Jika hidup ini adalah mitos Sisifus yang tak berujung, maka kebebasan kita terletak pada kesadaran akan keterbelengguan itu sendiri. Kita mungkin tidak bisa menghancurkan batu yang kita dorong, tapi kita bisa menertawakannya, atau bahkan dalam keputusasaan yang penuh makna, mencintai tugas yang sia-sia ini.
Tapi manusia modern tidak lagi memberontak. Kita lebih memilih distraksi. Media sosial adalah candu baru, agama tanpa kitab suci, di mana kita menyembah like dan share sebagai pengganti penyelamatan jiwa. Kita hidup dalam simulacra (kata Baudrillard), dunia yang sudah kehilangan referensi aslinya, di mana citra lebih nyata daripada realitas. Apa artinya "bahagia" ketika yang kita kejar hanyalah pantulan dari pantulan?
Media sosial telah menjadi panggung utama pertunjukkan kita. Di sana, kita memainkan drama kehidupan yang dikurasi rapi. Potongan-potongan kebahagiaan artifisial yang disusun seperti mozaik palsu. Kesenangan semu kita pungut ketika ada yang like, komen dan subscribe. Juga, kita terobsesi pada gelar, gaji, dan penampilan bukan karena nilai intrinsiknya, tetapi karena hal itu menjadi mata uang penilaian sosial di era yang disebut oleh Baudrillard sebagai Masyarakat hiperrealitas. Ironisnya, semakin kita mengejar validasi eksternal, semakin dalam kita tenggelam dalam “kejatuhan” (verfallen), kata Martin Heidegger. Kejatuhan adalah keadaan dimana kita kehilangan diri sejati dalam mereka-reka citra untuk orang lain.
Kita sering mengikuti standar penilaian orang lain. Gaya-gaya sosial yang dipajang di layar dijadikan model standar gaya hidup kita. Pencintraan dengan gaya yang tak selaras dengan keadaan membuat kita jadi bayangan derita yang sengaja dipilih. Kita terjebak dalam proyeksi gaya hidup orang lain, dan menganggapnya sebagai arus hidup yang harus diikuti. Tanpa kita sadari, kita terbakar dalam nyala api yang sengaja kita nyala.
Sartre berkata, kita dikutuk untuk bebas. Tapi kutukan itu terlalu berat bagi manusia yang lebih suka menjadi budak. Lebih mudah mengikuti arus daripada berenang melawan. Lebih nyaman memakai topeng sosial daripada berhadapan dengan kekosongan diri. Lebih lanjut lagi, Sartre mengatakan bahwa kebebasan itu menjadi momok. Kita lebih menjadi manusia gajah, binatang sirklus yang sejak kecil dirantai ke patok kecil, dan ketika dewasa (meski mampu mencabut patok itu kapan saja) ia tetap berdiam di tempat yang sama. Kita adalah tahanan yang membangun penjara sendiri, lalu menyebutnya “rumah”. Sebab, kita bersenang-senang dengan cara yang dipasarkan kepada kita. Pernahkan kita merasa bahwa keputusan terbesar dalam hidup, seperti karir, pernikahan, bekerja, bersekolah, atau hal lainnya, justru terasa seperti memilih dari menu yang sudah disiapkan? Seolah-olah kebebasan kita hanyalah kebebasan untuk memilih belenggu yang mana akan kita kenakan.
Nietzsche menggambarkannya sebagai kematian Tuhan, bukan sekadar kehancuran agama, melainkan krisis makna di mana manusia harus menciptakan nilainya sendiri. Tapi bisakah kita? Atau kita hanya mengganti satu berhala dengan berhala lain, dari Tuhan ke kapital, dari dogma agama ke dogma produktivitas?
Di tengah belenggu ini, mungkin satu-satunya jalan keluar adalah keberanian untuk menghadapi absurditas. Seperti Zarathustra (dalam buku sabda Zarathutra Frederich Nietzsche) yang turun dari gunung, kita harus berani melihat dunia tanpa ilusi, tanpa narasi besar, bahkan tanpa harapan. Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti bahwa kita perlu berhenti sejenak dan meragukan segala sesuatu yang dianggap "normal". Lalu, menerima bahwa hidup mungkin tidak punya makna intrinsik, dan justru di sanalah kebebasan kita dimulai. Dan menolak untuk menjadi sekrup dalam mesin peradaban, memilih untuk hidup dengan intensitas, meski di tengah keterasingan.
Kita tidak akan pernah benar-benar bebas dari belenggu waktu, struktur sosial, atau bahkan diri kita sendiri. Tapi dalam kesadaran akan belenggu itu, kita menemukan kemungkinan. Sebab, seperti kata Kierkegaard, kecemasan adalah pusingnya kebebasan, dan hanya mereka yang berani merasa pusinglah yang bisa melangkah ke tepi jurang eksistensi dan tersenyum.
Dibalik semua topeng-topeng kepalsuan ini, tesembunyi kegelisahan eksistensial yang mendasar, bagaimana jika semua ini benar-benar kosong, hampa dan tak berguna? Bagaimana jika kebebasan yang kita banggakan hanyalah ilusi belaka, semacam belanggu yang terasa nyaman? Kita seperti tawanan di gua Plato yang tidak hanya terbelenggu, tetapi mulai menyukai bayang-bayang di dinding gua itu, mengira itu realitas sejati. Sering kita terebak di sana, melihat segala sesuatu yang kita lakukan bermakna, tapi ternyata semuanya hanya bayangan belaka dari apa yang tidak kita pahami. Akhirnya, hidup ini mungkin hanya bayangan di gua Plato. Tapi bayangan itu adalah milik kita, dan kita bebas menari di dalamnya, atau memecahkan rantai, dan berjalan ke arah cahaya yang buta.
Akhir kata, hidup adalah tarian dalam penjara waktu. Kita tidak bisa memilih untuk keluar dari sana, tapi kita hanya memiliki kesempatan untuk berjalan, memaknai hidup dengan kesadaran yang intens serta membangunkan peradaban kecerdasan dalam membongkar kepasifan hidup.
Editor: OSIS SMAK Sanpersi Watumingan.

Komentar
Posting Komentar