Aku Berwajah Online (Menyibak Identitas dan Kepalsuan Eksistensi dalam Ruang Digital)
Oleh: Adrian Naja, S.Fil (Guru Mapel Doktrin Gereja Katolik dan Moral Krististiani)
Dalam dunia yang semakin kekinian, di mana dunia terhubung secara digital, konsep “aku berwajah online” menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji secara filosofis. “Wajah online” kita bukan sekadar representasi fisik, melainkan konstruksi identitas yang kompleks, di mana batas antara yang nyata dan yang virtual semakin suram dan kabur. Kita tidak dapat memisahkan epifani diri yang nyata dan palsu. Hal itu karena wajah yang ditampilkan dalam media sosial telah difilter sedemikian rupa. Hal ini membuat banyak orang terjebak dalam kepalsuannya. Misalnya, seseorang yang aslinya bermuka hitam legam ketika dipost dalam layar online menjadi putih, mulus, glowing dan memukau. Lalu, banyak orang menyukai itu dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran nyata.
Di samping itu, isu yang sedikit terkesan gila adalah isu mengenai real’s video. Fenomena ini menarik. Banyak orang terjebak dalam proyeksi reals video. Orang beramai-ramai membuat video reals dengan dalil bahwa video-video yang di-posting dapat mendulang uang. Ini keren dan luar biasa. Mencari uang ternyata mudah sekali. Dengan memosting beberapa video yang dituntut oleh mba meta dapat mencairkan uang sebanyak mungkin. Itu tidak dipersoalkan. Tapi ada satu kegilaan di sana yaitu seseorang dibuat buta dan gila. Seseorang harus membuat video-video wajah mereka yang bisa menarik perhatian orang. Mereka pun mengedit foto dan video mereka dengan sempurna. Video yang di-posting itu pun terkesan sembrono karena tidak memiliki nilai-nilai edukatif, moral dan etika di dalamnya. Karena itu, banyak orang memosting video-video wajah mereka tanpa melihat terlebih dahulu nilai-nilai apa yang disampaikan di dalamnya. Tapi, karena tuntutan mba meta yang sedikit kebablasan, menuntut seseorang membuka ruang-ruang privasi dan ruang klausura mereka. Misalnya, seseorang membuat video berpakaian alas dalam, video mandi, tidur bahkan video telanjang. Ini kebablasan sekali. Di samping itu juga, banyak video menarasikan diri dengan membuat adegan-adegan gila dan konyol.
Tentang Wajah Online
Berangkat dari opini kecil di atas, pertama-tama, wajah online dapat dipahami sebagai persona, sebuah topeng yang kita kenakan di ruang digital. Konsep ini mengingatkan kita pada pemikiran Carl Jung tentang persona sebagai bagian dari diri yang kita tampilkan kepada dunia. Namun, dalam konteks online, persona ini sering kali menjadi lebih fleksibel dan multi-dimensional. Kita bisa memilih untuk menampilkan sisi tertentu dari diri kita, menyembunyikan yang lain, atau bahkan menciptakan identitas yang sama sekali baru. Pertanyaannya adalah: apakah wajah online ini masih merupakan bagian otentik dari diri kita, atau justru sebuah ilusi yang kita ciptakan untuk memenuhi ekspektasi sosial?
Wajah online merupakan wajah yang sudah dipoles, wajah topeng yang dipakai untuk menarik perhatian orang lain. Karena dengan berwajah gaga seperti itu, seseorang dapat diakui keberadaanya dan disambut dengan hangat oleh orang lain. Wajah online pada intinya merupakan bagian dari proyeksi platform Android terhadap siapa pun, yang dengan sengaja di buat agar orang tersebut diberikan like, komen dan subscribe.
Di sisi lain, wajah online bisa dilihat sebagai bentuk proyeksi diri dalam upaya mencari makna dan pengakuan. Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa “eksistensi mendahului esensi,” yang berarti kita menciptakan diri kita melalui tindakan dan pilihan. Dalam konteks digital, tindakan kita seperti mengunggah foto, menulis status, memuat video atau berinteraksi di media sosial menjadi cara kita mendefinisikan diri. Namun, di balik itu, ada risiko kehilangan esensi diri yang sejati, karena kita terjebak dalam siklus performativitas untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh algoritma dan budaya digital. Kita memoleskan wajah kita dengan perabotan filter yang sudah disediakan platform Android.
Emmanuel Levinas, filsuf yang banyak membahas tentang etika dan “wajah” (the face), menyadarkan kita bahwa wajah adalah simbol kehadiran diri yang sejati. Dalam konteks online, wajah kita mungkin tidak selalu terlihat secara fisik, tetapi setiap kata, gambar, atau tindakan yang kita bagikan memiliki dampak terhadap orang lain. Orang lain akan tertipu dengan tampilan wajah yang dibagikan di media sosial.
Emmanuel Levinas, filsuf Prancis abad ke-20, mengemukakan bahwa wajah (the face) bukan sekadar objek fisik, melainkan sebuah epifani, penampakan yang mengungkapkan kehadiran diri. Wajah, bagi Levinas, adalah medium yang mengungkapkan keutuhan dan keunikan seseorang. Melalui wajah, kita hadir dalam ruang kehidupan liyan atau orang lain.
Dalam konteks “wajah online,” konsep ini bisa diperluas. Wajah online kita baik melalui foto, video, atau bahkan teks yang kita tulis menjadi semacam epifani digital. Ia adalah cara kita menampilkan diri kepada dunia, tetapi juga cara kita berelasi dengan orang lain. Namun, di ruang digital, wajah ini sering kali kehilangan dimensi kerentanannya dan keutuhannya. Kita cenderung menampilkan diri dalam keadaan yang “sempurna,” terfilter, dan terpoles, sehingga wajah online menjadi lebih seperti topeng daripada penampakan yang otentik.
Di sini, Levinas mungkin akan mempertanyakan: Apakah wajah online masih mampu mengungkapkan kehadiran “diri” yang sejati? Atau justru ia menjadi alat untuk menghindari tanggung jawab etis, karena kita bisa dengan mudah menyembunyikan diri di balik filter dan persona yang kita ciptakan?
Jean Baudrillard, filsuf postmodern, mengemukakan konsep simulacra, tanda-tanda yang tidak lagi merujuk pada realitas, tetapi pada realitas buatan yang diciptakan oleh media dan teknologi. Dalam konteks wajah online, filter dan alat pengeditan menjadi alat untuk menciptakan simulasi wajah. Wajah yang kita tampilkan di media sosial sering kali bukanlah wajah yang “nyata,” melainkan versi yang telah disunting, dihaluskan, dan disempurnakan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendalam: Apakah wajah online yang terfilter masih memiliki hubungan dengan identitas asli kita? Atau ia telah menjadi entitas yang terpisah, sebuah hiper-realitas yang tidak lagi terkait dengan kebenaran diri? Dalam dunia yang dipenuhi filter, wajah online bisa dilihat sebagai bentuk kepalsuan (inauthenticity) yang mengaburkan batas antara yang nyata dan yang tidak nyata.
Martin Heidegger, filsuf eksistensialis, mungkin akan menyoroti bahwa kepalsuan ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang teralienasi (inauthentic existence). Dalam upaya untuk memenuhi standar kecantikan, kegantengan, kesuksesan, atau popularitas yang ditetapkan oleh budaya digital, kita kehilangan hubungan dengan diri kita yang sejati. Wajah online yang terfilter menjadi simbol dari ketidakotentikan ini, sebuah upaya untuk menghindari ketidaksempurnaan dan kerentanan yang melekat pada manusia.
Dilema Antara Epifani dan Kepalsuan
Di satu sisi, wajah online memiliki potensi untuk menjadi epifani, sebuah penampakan yang mengungkapkan keunikan dan keutuhan kita. Namun, di sisi lain, ia juga rentan terhadap kepalsuan karena pengaruh filter dan budaya digital yang mendorong kita untuk menciptakan versi diri yang ideal.
Levinas mungkin akan menyarankan bahwa kunci dari masalah ini terletak pada tanggung jawab etis. Wajah online, seperti halnya wajah fisik, harus menjadi medium untuk mengungkapkan kehadiran kita yang sejati dan merespons kehadiran orang lain dengan empati dan kejujuran. Sementara itu, Heidegger mungkin akan mengingatkan kita untuk menghadapi ketidaksempurnaan kita dan menerima kerentanan sebagai bagian dari keberadaan manusia yang otentik.
Wajah online adalah medan pertarungan antara epifani dan kepalsuan, antara otentisitas dan simulasi. Ia mencerminkan dilema manusia modern yang hidup di antara dunia nyata dan digital. Di satu sisi, ia menawarkan kemungkinan untuk mengekspresikan diri dan berelasi dengan orang lain. Di sisi lain, ia juga membawa risiko kehilangan esensi diri yang sejati.
Sebagai individu yang hidup di era digital, kita ditantang untuk menemukan keseimbangan antara menampilkan diri secara otentik dan menghadapi tuntutan budaya digital yang sering kali tidak realistis. Dengan menyadari kerentanan dan ketidaksempurnaan kita, serta merespons kehadiran orang lain dengan empati, kita mungkin bisa menggunakan wajah online bukan sebagai topeng, tetapi sebagai cermin yang jujur dari diri kita yang sejati.
Terakhir, wajah online juga mengajak kita untuk merenungkan konsep kebenaran dan autentisitas. Apakah wajah online kita mencerminkan kebenaran tentang siapa kita, atau justru menjadi alat untuk menciptakan narasi yang dipoles dan disunting? Dalam dunia yang dipenuhi filter dan algoritma, batas antara realitas dan fiksi semakin tipis. Ini menantang kita untuk terus-menerus bertanya: siapakah “aku” yang sebenarnya di balik wajah online ini?
Secara keseluruhan, “aku berwajah online” adalah fenomena yang mencerminkan kompleksitas identitas manusia di era digital. Ia bukan sekadar cerminan diri, tetapi juga medan pertarungan antara otentisitas, performativitas, dan tanggung jawab. Sebagai individu yang hidup di dua dunia nyata dan digital, kita ditantang untuk menemukan keseimbangan antara menjadi diri sendiri dan memenuhi tuntutan ruang digital yang terus berkembang.
Editor : OSIS SMAK Sanpersi Watumingan
Komentar
Posting Komentar