“AKU TERLAHIR DARI SEORANG PETANI”
Oleh: Yohanes M. Tenggo, S.Pd (Guru Mapel Matematika)
“Aku bangga terlahir dari petani" merupakan ungkapan rasa bangga terhadap profesi orang tua yang bermata pencaharian sebagai petani.
Rasa bangga terus terukir seiring perjalanan waktu, masa kecilku dihabiskan dengan waktu yang belum terarah. Kasih sayang orang tua tidak terhenti dengan langkah pergulatan ekonomi yang kurang cukup. Orang tua yang hanya berprofesi petani tidak menyerah begitu saja, parang, sabit, tofa dan perlengkapan petani lainya adalah bagian hidup seorang ayah ibu.
Orang tuaku adalah seorang yang berprofesi sebagai petani. Mereka yang menekuni hidupnya untuk bertani setiap harinya. Bukan hanya Bertani tetapi hewan ternak seperti babi , ayam, kambing mereka pelihara. Saya merasa paling beruntung menjadi anak petani. Perjuangan mereka dalam bertani juga tidak bisa saya hitung sudah berapa tahun. Bagi saya, mereka adalah petarung sejati. Bermodalkan tenaga, dan hasil pertanian, orang tua saya mampu menyekolahkan kami (anaknya) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kini saya sudah menyelsaikan Pendidikan tinggi, profesiku berubah menjadi seorang pendidik. Waktu terus bergulir hendak tidak menyadarkanku akan perubahan. Tuntutan ekonomi terus berubah. Aku menyadari akan ini. Profesi baruku membuat aku bingung akan penghasilan yang belum cukup. Tuntutan ekonomi keluarga semakin menghimpit pergerakan perjuanganku. “Pusing, kesal, dan bingung”. Memang pusing pikirku sejenak. Bertani? Pikiran dan semngatku berubah seakan tergerak oleh sosok seorang ayah yang sudah tiada. Semangat dan meranjak bekerja diawali dengan merawat kembali tanaman peninggalan ayah. Tentu tidaklah mudah, butuh kerja keras dan fisik yang kuat.
Waktuku dihabiskan dengan kerja, pulang sekolah dan lanjut kekebun, profesi berubah dan saya sering menyebutnya “profesi ganda, hahahaha.. versiku sendiri” terhibur dan sudah mulai memanen, perubahan ekonomin rumah tangga lumayan dicukupi.
Sosok seorang ayah sudah tiada, hanya seorang ibu yang umurnya semakin menua, namun tidak membuatnya untuk tidak melakukan aktivitasnya seperti biasa. Saya sungguh berterimakasih kepada Sang Pencipta karena masih memberikan umur panjang dan kesehatan. Hingga kami (anaknya) sudah memiliki usia yang cukup dewasa, pesan dan harapan sosok seorang ayah untuk aku membuat semngat membara melanjutkan profesinya. Aku masih berkesimpun dalam dunia pertanian. Lahan kebun sungguh membuahkan hasil.
Ayah saya selalu mengajarkan kami cara bertani yang baik. Pesannya kepada kami:
“kadang ketika kita hendak menanamkan sesuatu, belum tentu mendapatkan hasil yang kita inginkan, namun teruslah menanam, karena proses itu sangat menghargai kerja keras seseoarng". pesan itu sungguh menjadi inspirasi dalam hidup saya.
Ternyata, menjadi seorang petani tidak mudah. Kerja sudah kotor, makan tidak teratur. Bahkan ada yang menganggap bahwa pekerjaan sebagai petani adalah pekerjaan yang kotor. Ada juga yang malu punya keluarga petani. Namun tidak bagi saya. Kami sebagai anak petani sangat bersyukur. Karena masih bisa melanjutkan hidup dengan kebahagiaan.
EDITOR: OSIS SMAK Sanpersi

Komentar
Posting Komentar