NADIA SAUDARIKU
Seperti biasanya ketika bangun pagi, hal yang sering saya lakukan merapikan tempat tidur dan menyiapkan buku-buku perkuliahan. Bagi saya, hal ini bukanlah sesuatu yang asing. Sudah menjadi rutinitas. “Pagi kali ini rasanya lain sekali? Sudah jam segini Agus belum juga datang. Apa dia lupa hari ini ada mata kuliahnya Pak Marsel yang sering disebut sebagai Dosen terkiler itu?” Gumamku. Sementara itu, rotasi waktu rasanya tidak dapat dihentikan. Jarak Kampus dan Rumah tempat Saya tinggal sangat jauh. Membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Kampus. Kegelisahan dan rasa takutku semakin berapi-api. Takut akan mata kuliah yang tertinggal dan takut akan Pak Dosen.
Agus sahabat terbaiku, sekelas dan sehobi denganku. Adapun kelebihannya bisa mengendarai sepeda motor. Sedangkan aku, sama sekali tidak bisa. Seringkali mencoba tetapi sama sekali tidak bisa. Apa mungkin karena Saya terlalu dalam menanam pemahaman bahwa yang cepat menyatu dengan Saya adalah Dia yang nantinya kujadikan soulmate? Ah entahlah. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Ini pasti Agus. “Bro kita tidak ada perkuliahaan untuk hari ini. Bapak Marsel ke luar kota”. Serentak kekaluatanku hilang. “Thanks banyak bro. Sampai ketemu besok”. Jawabku. Setelah mendengar kabar dari Agus kurapikan kembali buku-buku yang terlanjur simpan di dalam tas dan membuka facebook untuk menanyakan teman sekelasku tentang informasih yang disampaikan Agus. Alhasil, benar adanya. Sementara lagi asik berchatingan dengan teman, tiba-tiba muncul notifikasi pertemanan. Biasanya saya tidak begitu cepat untuk berkonfirmasih. Tetapi kali ini rasanya sangat berbeda. Perlahan Kumelihat foto profil dan dinding kronologi. Seketika saya tertarik paras wajahnya. Waktu terus berjalan, namun penasaranku padanya semakin berapi-api. “Ko bisa, saya penasaran dengan orang yang sama sekali tidak mengenaliku? Lupakan saja. Bodoh amat.” Kendati demikian, sekuat apapun saya untuk menguburkan rasa penasaranku, tetap saja hasilnya nihil. Di hadapan foto profilnya, saya seperti laki-laki yang baru melihat perempuan secantiknya. Tergila-tergila. Tibalah suatu waktu saya memberanikan diri untuk berkenalan. “Halo ade”. Setelah pesan terkirim perasaan pradugapun semakin menghantui.“Mungkin saja dia tidak respon”. Satu jam kemudian telepon genggam yang kuletakan di atas meja belajarku berbunyi. “Hy kaka”. Balasannya. Saya pun memperkenalkan diri dan menanyakan kabar. Begitupun sebaliknya juga mersepon dan menanyakan tentang aku.
Waktu terus berjalan, relasi kami makin hari semakin akrab. Rasa nyamanpun bertumbuh seirama hubungan yang kami rajut. Lalui setiap waktu dengan canda tawa meskipun via telepon genggam. Tidak mengabarinya setiap hari bagiku doa yang paling menjengkelkan. “Nadia, tidak terasa pertemanan kita sejauh ini. Nadia masih ingat kan?”. “Ah, saya lupa kaka. Lagian kenapa mesti diingat. Intihnya, sekarang kita sudah berteman”. Melihat pesan Nadia, sontak nadi saya terhenti. “Nadia kenapa tidak pekah. Apa dia tidak merasakan gejolak yang kini meratapiku? Ataukah saya terlalu cepat berekesimpulan? Ah, sialan. “Maksudnya, saya nyaman sekali bertemanan dengan Nadia meskipun hanya di dunia maya”. Lanjutku. “Kaka, harapannya itu tidak berlebihan. Bagaimana mungkin, kita terjebak dengan rasa nyaman yang nyatanya hanya sebuah kebiasaan. Jika ingin jujur, kenyamanan yang saya rasakan tidak lebih dari sikapnya kaka. Tidak lebih.” Jawaban Nadia rupa-rupanya sebuah kenyataan yang lebih mematahkan harapan yang sudah terlanjur bermesrah denganku. Namun demikian, saya terus mencoba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa yang disampaikannya sebuah tantangan yang mesti disikapi dengan bijak. Perbincangan sebelumnya yang begitu intens kini pelan-pelan memudar. Sikap ego dan tahu diri rasa-rasanya perlahan mengakrabiku. “Mungkin yang terbaik adalah tidak mengabarinya. Hanya membuang waktu saja. Jelas-jelas sedikitpun dia tidak pernah memiliki perasaan seperti yang kini dirasakan. Ataukah ini hanyalah pradugaku saja?” Gumamku. Sementara itu, Nadia tidak memiliki pacar semenjak Rido sekampus dengannya memilih untuk berkenalan dengan Desi sahabatnya. Dia terpukul dan diakianati. Mendengar cerita Nadia, saya tersadar balasan inbox Nadia waktu itu adalah sebuah reaksi trauma. Saya mulai memahaminya. Semenjak saat itu hubungan saya dengan Nadia bertumbuh kembali bahkan keakraban kami melebihi sebelumnya. “Saya senang sekali bisa berkenalan denganmu Nadia. Engkau sudah mampu tuk menyadarkanku akan arti dari sebuah keakraban”. “Sebenarnya saya yang berterimaksih karena kaka sudah menguatakan komitmenku untuk tetap berbuat baik.” “Nadia, saya jadi malu.” “Bukankah yang memalukan itu ketika bertindak di luar batas kewajaran, kakak?” “Pertanyaan yang luar biasa. Saya sepakat denganmu”. Jawabku sambil tersenyum. “Nadia saya ingin menyampaikan satu hal yang pastinya begitu tulus bagiku dan berdosa ketika aku mengburkannya. Aku, jatuh hati padamu” Ketika pesan terkirim, serentak rasa malu, gugup dan cemas membuntutiku. Mungkin saja dia tidak menerimanya. “Jatuh hati atau kakak sedang keliru?” jawabnya. “Saya siap menerima konsekuensinya Nadia”. “Tapi Dodi, saya tidak menemukan keseriusan atas hubungan yang mungkin terjadi”. “Nadia sebenarnya bukan keseriusan yang engkau takutkan, tetapi tidak ada sedikitpun perasaan terhadap aku sehingga sulit bagimu tuk mengatakannya. Bukankah demikian?” “Dodi, saya pernah terjatuh pada pengalaman yang sangat kelam. Saya terlalu berharap pada seseorang, tetapi yang saya alami nasib apes. Dia mendekati sahabatku sendiri. Jujur, saya masih trauma”. “Saya sangat paham Nadia. Salah satu bukti mencintai yang paling mulia adalah mendoakannya. Terlepas Dia menyakitimu. Tetapi satu yang pasti engkau sudah menunjukan esensi dari cinta itu sendiri dengan mendoakan serta mengilkaskannya pergi.” “Tapi Dodi, bukankah engkau juga pernah mengalami hal serupa?”. “Nadia engkau tahu kita sama-sama punya masa lalu yang tentunya tidak terlepas dari suka dan duka. Saya ingin buktikan bahwa saya masih kuat mempertahankan perasaanku kepadamu.” Jawabku. Kekalutan menghampiriku, mengingat Nadia begitu lama memberikan jawabnnya. “Hati tidak pernah berdusta, tidak pernah mempermainkan perasaan dan menjebak siapa saja pada kehancuran. Saya juga mencintamu dengan hati, bukankah sebaliknya juga demikian, Dodi?”. Jawaban Nadia membuat saya berbunga-bunga. “Keraguanmu bagian dari diriku. Sebuah tanggung jawab besar untuk aku pertahankan”. Jawabku. Perjalanan kami semakin hari semakin tak terhentikan. Sehari rasanya semenit dan tidak cukup untuk menghabiskan indahnya sebuah keakaraban serta prospkek hidup ke depannya. Sampai pada suatu waktu tepatnya pada liburan Panas kami bersepakat untuk bertemu. Saya mengunjungi Nadia yang baru saja berlibur. Saya dengan Nadia beda Kabupaten. Untuk sampai ke rumahnya bukanlah sebuah perjalanan yang singkat. Tetapi, saya ingin buktikan betapa besar kerinduanku kepadanya. Perasaan takut cemas dan ragu tidak pernah terpikirkan dalam benak. “Nadia begitu cantik dan lembut” kagumku setelah bertemu empat mata dengannya. “jangan terlalu kagum, nanti cantiknya hilang” “Ko Nadia tahu” “Iya, iyalah dari bola matamu” “Ah, Sialan”. Lalu Nadia menyugukan kopi. Seperti biasa rasa hormat Tuan rumah. “Nadia, terimaksih untuk suguhannya.” “iya, sama-sama”. Sambil tersenyum. Tidak terasa perjumpaan kami berada pada posisi pertengaan hari. Nadia pun meminta saya agar menunggu Bapa dan Mamanya. Tidak lama kemudian Merekapun tiba. Saya memperkenalkan diri sebagai pacarnya Nadia. “Sepertinya saya tidak asing denganmu. Saya begitu dekat denganmu, ade.” Tanya Bapaknya Nadia dengan serius. Saya sangat kaget dan tak karuan. Akan tetapi, saya mencoba untuk menyakinkan bapaknya bahwa kami pernah berjumpa. Begitu asik bercerita sampai pada akhirnya saya meminta untuk kembali ke rumah. “Saudarahku, jujur ini bukan sapaan yang tepat untukmu, tetapi ini adalah kekeliruan kita. Kita berangkat dari ketidaktahuan sehingga pada akhirnya aku mencintamu melebihi yang kita jalankan selama ini.” Pesan nadia via inbox. Sementara itu aku sedang berjanji untuk mencintainya tanpa harus mencintai untuk yang kedua kali. Tetapi, aku semakin tersadar bahwa yang lebih mulia mencintai Nadia sebagai saudari kandungku yang diadopsi oleh rekan kerja Bapaku.
Editor: OSIS SMAK Sanpersi Watumingan

Komentar
Posting Komentar