Postingan

KUNJUNGAN PAUS FRANSISKUS DI INDONESIA TAHUN 2024: REFLEKSI POLITIK, AGAMA DAN PENDIDIKAN KATOLIK

Gambar
Oleh:Fitriana Seol, S.Pd (Guru Mapel Bahasa Inggris di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan) Abstrak Tulisan ini membahas tentang kunjungan Paus Fransiskus di Indonesia Tahun 2024 dan refleksi politik, agama, dan pendidikan Katolik terkait dengan kunjungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana kunjungan Paus Fransiskus dapat memperkuat internalisasi ajaran agama dan meningkatkan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, serta implikasi kunjungan tersebut terhadap kebijakan politik dan agama di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui studi literatur dan wawancara dengan narasumber yang terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kunjungan Paus Fransiskus dapat memperkuat internalisasi ajaran agama dan meningkatkan kerjasama antar umat beragama di Indonesia, serta memiliki dampak signifikan terhadap kebijakan politik dan agama di Indonesia. Selain itu, strategi Paus Fransiskus untuk meningkatkan ku...

KATEKESE TAHUN EKARISTI TRANSFORMATIF 2025 JADIKAN UMAT SEBAGAI “EKARISTI” BAGI DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN.

Gambar
Oleh: Elfrida Jena Guru Mapel PKN di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan ABSTRAK  Gereja Katolik Keuskupan Ruteng mencanangkan tahun 2025 sebagai Tahun Ekaristi Transformatif . Sebagai bagian dari keuskupan tersebut, Gere Stasi St.Peregrinus Watumingan ambil bagian dalam program pastoral yang sama. Didalam dan melalui program pastoral tersebut Gereja setempat berniat memberikan pencerahan ulang, membangun kembali kesadaran iman umat akan pentingnya Ekaristi . Salah satu metode yang digunakan dalam kegiatan pencerahan tersebut adalah katekese umat yang dibingkai dalam empat tema yang berbeda namun bertalian. Metode yang sangat sederhana namun mengumat ini pada akhirnya membuahkan hasil, umat Stasi St.Peregrinus Watumingan menjadi “Ekaristi” bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Abstract The Catholic Church of the Diocese of Ruteng has declared 2025 as the Year of the Transformative Eucharist. As part of the diocese, the St. Peregrinus Watumingan Church took part in the sa...

SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan: Mencetak Generasi Terampil Berhati Nurani "Pendidikan bukan sekadar mengisi pikiran dengan ilmu dan informasi, tetapi membentuk manusia menjadi lebih manusiawi."

Gambar
Oleh: Adrian Naja, S.Fil Pernahkah Anda Merenung, Apa Arti Sebuah Pendidikan yang Sesungguhnya?" Pendidikan yang sesungguhnya adalah yang mampu membebaskan manusia, bukan hanya dari ketidaktahuan dan ketidakberdayaan, tetapi juga dari kesempitan makna. Di SMAK St. Peregrinus Laziosi Watumingan, kami meyakini bahwa pikiran yang cerdas harus digerakkan oleh hati yang bijak, dan tindakan yang bijak perlu diterangi oleh iman yang teguh. Dalam semangat inilah SMK St. Peregrinus Laziosi Watumingan hadir, bukan hanya sebagai sekolah, tetapi sebagai bengkel kehidupan, tempat setiap siswa ditempa menjadi manusia utuh, terampil tangan, cerdas pikiran, dan luhur hati serta bijak dan bermoral dalam bertindak. Inilah ruang di mana kecerdasan otak dan kedalaman spiritual bersatu. Di sini, kami tidak sekadar melatih siswa untuk menguasai materi, tetapi juga membentuk insan bermoral dan bertakwa kepada Tuhan, tidak hanya mengejar nilai dan kelulusan, tetapi menemukan panggilan hidup.  Ka...

Ritus Manusia Belenggu (Ketika Hidup Hanya Jadi Pertunjukkan Kosong di Panggung Eksistensi)

Gambar
  Oleh: Adrian Naja, S. Fil Kita hidup dalam dunia yang sudah terstruktur sebelum kita lahir. Jam, kalender, sistem hidup, sistem upah, hierarkti sosial, dan lainnya, semuanya bejalan seperti telah ditetapkan dengan rapi dan pasti. Manusia berjalan di dalamnya, tanpa tanya dan tanpa pemberontakan. Heidegger menyebutnya geworfenheit, “kita terlempar ke dalam realitas yang bukan pilihan kita. Kita semua terjebak dalam siklus ritus peristiwa harian tanpa makna, dan kita sebut bahwa itulah hidup. Kita memaknai hidup sebagai peralihan peristiwa, dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan segala peristiwa itu kita alami setiap hari. Bangun pagi, mandi, makan, bekerja/belajar, tidur merupakan kegiatan repitif absurd yang membuat seorang filsuf Nietzsche mungkin tersenyum getir melihat ketidakberdayaan kita melawan banalitas eksistensi. Rutinitas itu bukan lagi pilihan, melainkan secaman determinasi sosial yang kita terima dengan patuh dan taat.  Setiap pagi, alaram berbunyi. Kita ...

“AKU TERLAHIR DARI SEORANG PETANI”

Gambar
Oleh: Yohanes M. Tenggo, S.Pd (Guru Mapel Matematika)  “Aku bangga terlahir dari petani" merupakan ungkapan rasa bangga terhadap profesi orang tua yang bermata pencaharian sebagai petani.  Rasa bangga terus terukir seiring perjalanan waktu, masa kecilku dihabiskan dengan waktu yang belum terarah. Kasih sayang orang tua tidak terhenti dengan langkah pergulatan ekonomi yang kurang cukup. Orang tua yang hanya berprofesi petani tidak menyerah begitu saja, parang, sabit, tofa dan perlengkapan petani lainya adalah bagian hidup seorang ayah ibu. Orang tuaku adalah seorang yang berprofesi sebagai petani. Mereka yang menekuni hidupnya untuk bertani setiap harinya. Bukan hanya Bertani tetapi hewan ternak seperti babi , ayam, kambing mereka pelihara. Saya merasa paling beruntung menjadi anak petani. Perjuangan mereka dalam bertani juga tidak bisa saya hitung sudah berapa tahun. Bagi saya, mereka adalah petarung sejati. Bermodalkan tenaga, dan hasil pertanian, orang tua saya mampu menyek...

NADIA SAUDARIKU

Gambar
  Oleh: Arnoldus Tarsan, S.Fil (Guru Mapel Pastoral/Katekese)  Seperti biasanya ketika bangun pagi, hal yang sering saya lakukan merapikan tempat tidur dan menyiapkan buku-buku perkuliahan. Bagi saya, hal ini bukanlah sesuatu yang asing. Sudah menjadi rutinitas. “Pagi kali ini rasanya lain sekali? Sudah jam segini Agus belum juga datang. Apa dia lupa hari ini ada mata kuliahnya Pak Marsel yang sering disebut sebagai Dosen terkiler itu?” Gumamku. Sementara itu, rotasi waktu rasanya tidak dapat dihentikan. Jarak Kampus dan Rumah tempat Saya tinggal sangat jauh. Membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke Kampus. Kegelisahan dan rasa takutku semakin berapi-api. Takut akan mata kuliah yang tertinggal dan takut akan Pak Dosen.  Agus sahabat terbaiku, sekelas dan sehobi denganku. Adapun kelebihannya bisa mengendarai sepeda motor. Sedangkan aku, sama sekali tidak bisa. Seringkali mencoba tetapi sama sekali tidak bisa. Apa mungkin karena Saya terlalu dalam menanam pemahaman bahwa ya...